Kamis, 16 Juni 2016

MEKES ANAKNYA TIDAK NAIK KELAS


Dalam rapat kenaikan kelas itu, terjadi kebuntuan. Ada salah satu siswa yang tidak lancar baca tulis. Aanaknya sangat rajin. Tidak banyak tingkah di sekolah. Dilihat dari kemampuan baca tulisnya terasa aneh jika anak ini lulus ketika di sekolah dasar. Ternyata dari informasi teman guru SD yang pernah mengajarnya, anak ini 3 kali tidak naik kelas. Semanagt belajarnya sangat tinggi. Dia diluluskan dengan harapan tidak melanjutkan lagi karena ketidakmampuannya dalam baca tulis.

Tidak naik, banyak yang takut dengan bapaknya. Terkenal berani dengan siapa saja. Tak segan menantang membunuh jika dia marah. Bapaknya buta huruf .  Tetapi hafat nominal uang. Bahkan kaya berkat suksesnya bisnis barang antik.

Kesimpulan rapat, nilai rapor dikosongkan. Siswa diberitahu, silakan belajar baca tulis, Setelah bisa baca tulis, minta bilai berapa akan dituruti dan bisa naik kelas.

Esok hari sekitar jam 11 kekhawatiran itu terbukti. Ada orang tua datang marah-marah sambil membawa parang. Net bola voly yang baru dipakai anak anak bermain dipotong. dicintang sambil berteriak-teriak. Ingin bertemu kepala sekolah. Tidak ada guru yang benari menemui. satu satu guru meninggalkan sekolah. Bahkan kepala sekolah telah pulang lebih awal.

Malam harinya selepas magrib, pintu rumah diketuk. Pak Tajang yang anaknya tidak naik kelas datang dengan berbagaimacam omelan,. Namun nadanya tak semarah ketika di sekolah. Kutenangkan pikiran. Saya harus pelan-pelan memberikan penjelasa. Tak mungkin dia membunuh saya. Saya punya hubungan baik dengan keluarganya.

"Pak, Idris bukan tidak naik. Nilai dikosongkan agar nilainya sesuai dengan kemauan Idris," kataku memebranikan diri.
"Jadi anak saya naik kelas?" pandangan matanya berubah. Nada bicaranya pun berubah.
"Saya merasa terhina Pak Guru. saya ini buta huruf. Jangan mentang-mentang saya buta huruf, anak saya dikatakan bodoh. " dia mulai mengungkapkan perasaanya. Kudengarkan dengan sedikit lega.
"Ya Pak, Idris naik. Tapi tolong suruh belajar membaca dan menulis. Saraynya mudah bukan?"
"Hanya baca tulis?" tanyanya bersemangat. Saya mengangguk.
"Kalau malu belajar ke guru lain, silakan datang ke sini, saya ajari. Mumpung masih libur. Setelah bisa baca tulis, minta nilai berapa, akan ditulis di rapor. Dia naik ke kelas dua." saya menghela nafas lega. Setidaknya Pak tajang menerima penjelasan saya.

Sudah seminggu, tak muncul juga Idris ke rumah untuk belajar baca tulis. Teman - teman guru berharap dia tidak melanjutkan sekolah. Tetapi hubungan baik saya dengan keluarganya membuat saya berharap dia mau belajar. Anaknya baik, pandai bermain bola. Kasihan nantinya jika tidak bisa baca tulis.

Akhirnya Idris tidak mau melanjutkan sekolah. Berita itu cukup menjadi pembicaraan di kampung. Pak Tajang yang terkenal kejam pemberani itu bisa luluh berkat penjelasan saya.





SERBA IKAN

Lauk ikan, sambal ikan, sayur ikan Itulah hal yang sangat baru bagi saya. Di kampung jarang sekali makan ikan segar. yang ada ikan asin, ikan laut.

Di sini, hari-hari ikan. Maklum dekat dengan nelayan. Setiap sore, sekitar jam 4 selalau ada anak-anak nelayan berkeliling kampung dengan teriakan khas "E iwak! E Iwak," anak-anak kecil usia sekolah dasar berjalan kakai sambil membawa ikan segar dari danau Jempang.

 Harga ikan lebih murah daripada harga sayur. Ikan yang dijajakancukup diikat dengan tai, seperti akan dibuat kalung. Isinya, rata-rata 10 ekor. Pembelinya, sebagaian besar pendatang. Jika ikan tidak laku dijual akan dibuat ikan asin oleh pemiliknya. Ikan di sini sangat banyak. Bagi saya yang jauh dari kehidupan air, sangat senang bermain di kampung nelayan. Di WC terapung banyak s ekali ikan berkeliaran.

Penduduk setempat tidak mau menangkap jenis ikan tersebut. Karena mereka tahu ikan2 itu makan kotoran manuisa. Inilah kehebatan Danau Jempang. Mengapa sulit sayur? Banyak lahan kosong, banyak kebun. Banyak hutan. "Kami ingin punya ladang di dekat orang-orang transmigrasi," kata salah satu penduduk Dayak. Pertanyaan itu terjawab.

Mereka ingin belajar bertani seperti orang-orang Jawa. Maklum, di sini belum kenal pupun kimia, belum kenal pupuk kandang. Hidupnya tanaman pertanian karena kesuburan hutan yang dibuka. Ditanam disiangi dibiarkan, berbuah, dipanen. Sungguh suburnya bumi dayak. "Pak daun singkong itu beracun, jangan dimasak!" kata salah seorang tetangga ketika saya memetik daun singkong karet yang tumbuh subur di dekat "belik".

Daun singkong liar itu menjadi menu menyenangkan hari-hari saya. Mereka tidak tahu bahwa daun singkong karet lebih segar daripada daun singkong ubi kayu. Yang mereka tanam ubi kayu. Tidak kenal ubi yang disambung / distek. Lama-lama mereka penasaran juga, dan mengikuti jejak saya memanfaatkan daun singkong karet sebagai sayur.

23 jam perjalanan mengambil gaji

2.  
 B
Bagaimana rasanya menerima gaji pertama kali? Gaji guru yang selama ini diidam idamkan?
Dari Tulungagung ke hulu Mahakam kaltim? Tentu kegembiraan itu sulit dibayangkan. Saya guru SMP. Pegawai pemerintah. Berangkat kerja bersepatu. Baju selalu rapi dan berseterika. Penampilan pun harus harum did epan murid murid

Alhamdulilah Kubaca namaku. Benar. Budi Harsono. Guru SMPN Tanjung Isuy Kutai Kaltim. Gaji kotor Rp 33 000,00. (tigapuluh tiga ribu rupiah. Lumayan banyak untuk saya yang masih sendiri. Umur 21 tahun. Ada rincian, ptongan Rp 5 ribu. Setiap pegawai gajinya dipotomg umtuk iuran transport ke Samarinda. Karena tidak ada beaya untuk pengambilan gaji. Untunglah kepala sekolah tinggal di Samarinda, sehingga meringankan beaya. Mengambil gaji sekalian pulang jenguk keluarga.

Bagaimana harus mengatur uang sebesar itu? Nasi di warung seribu rupiah sepiring. Belum termasuk teh. Di Jawa, harga kacang panjang seikat Rp 25 (duapuluh lima rupiah). Di sini, seikat berisi 11 untai kacang panjang Rp 125 (seratus duapuluh lima rupiah).

Tidak ada recehan duapuluh lima rupiah di sini. Harga pisang goreng pun Rp 100. Padahal di Tulungagung amsih Rp 25.00.

Akhirnya harus pandai berhemat. Masak sendiri. Ternyata tidak ada yang makan ikut ibu kos seperti di Jawa. Tidak ada rumah kos. Hampir 80 persen pegawai adalah pendatang. Semua memasak nasi sendiri. semua harus bisa membuat sayur kebutuan sendiri.

Yang agak berbeda adalah pola hidup teman -teman polisi. Jika tanggal muda, mereka selalau makan di warung. Gaji mereka lebih banyak daripada guru dan pegawai yang lain. Tetapi setelah sepuluh hari pertama biasanya mulai berhemat. Masak nasi sendiri.

Perasaan senasib itulah yang membuat kami para pegawai secara tak langsung seperti saudara. Jika hari Minggu, acaranya seperti anak-anak muda. Bikin acara makan-makan. Rujakan, membuat singkong goreng, dsb. Yang penting berkumpul. Senang kebersamaan ini.




Ada penjaja ikan keliling, dari nelayan yang pulang cari ikan
O iwak
Rata rata anak banjar, cari upahan

Sabtu, 11 Juni 2016

TERBANG KE KALTIM



Senin , jam 5.45 tanggal 6 januari 86 . Merpati yang saya tumpangi telah meninggalkan Juanda. Kebetulan tempat dudukku berada di dekat jendela. Bisa kunikmati pemandangan luar.

Kuambil nafas panjang. Pu;au Madura bisa kulihat dari pesawat. Oh aku benar-benar terbang meninggalkan Pulau Jawa. Meninggalkan tanah kelahiranku. Di sebelahku, tampak seorang bapak tinggi berjambang duduk tenang. Kucoba menyapa. eee. ternyata orang Banjarmasin yang 17 tahun bekerja di Riyadh. Dan kali ini baru ke Surabaya ada keperluan.
Setelah tahu tentang saya, banyak nasehat yang meluncur dari keramahannya. Hati-hati di rantau, jangan meninggalkan sholat 5 waktu. Berperilaku jujur dan ramah kepada siapa pun. Dan satu hal "mengalah" yang bukan berarti kalah jika menghadapi masalah.
Tak terasa, 10 menit lagi mendarat. Tampak bandara Syamsudin Noor Banjarmasin.. Alhamdulilah sebentar lagi menginjakkan bumi Kalimantan. Rasanya seperti meninggalkan tanah kelahiran untuk selamanya. Padahal hanya keluar Pulau Jawa. Bagaimana jika ke luar negeri? Maklumlah. jarang bepergian jauh, tiba tiba harus ke luar pulau.
SING SAMARINDA
Jam wolu esuk ing dina candake, aku budhal saka terminal bis Balikpapan nuju Samarinda. Ing dalan tansah dak gegem piwelinge wong uwo supaya ora grusah grusuh ing samubarang.
Bis sing dak tumpaki kebak banget , nanging ora ana sing ngadek. Aku tansah ngematake dalan kang rupane sarwa abang , margo dalane kang menggak - menggok.
2 jam 15 menit , Balikpapan wis di liwati , nganti tekan terminal penyeberangan Samarinda. Aku leren sedhela ing penyeberangan Mahakam saperlu golek isine weteng.
Kaya piwelinge Bp. Suwandi, aku lancar bae nyebrang golek prau. Mlebu tuku karcis 25, langsung lungguh prau kang kebak. Prau cilik isi wong seketan kanthi di surung mesin disel alon-alon nyabarang kali Mahakam kang amba. Aku tansah ndedonga , muga-muga wong-wong ora mangerti yen aku wong anyar, nadyan gawanku akeh. Sawise mbayar Rp 200 , aku golek ojegan. Ing Samarinda ora ana becak, marga dalane kang nanjak perbukitan , sejene dalan kang sempit di banding dalan propinsi ing Jawa Timur. 

Samarinda kang sadurunge mung gambar ing angen-angen , mung crita-crita kang dak 
tampa , saiki wis dak ambah, dak deleng, lan bakal dak rasaake. Kahanan kutha ora beda karo Tulungagung, mung ing kene bangunan-bangunan kantor luwih megah ana taxi kota , nanging ora ana bis umum.
Kanthi ati manteb aku mlebu ing kanwil PK Samarinda. Barang gawanku dak titipake ing ruang jaga , langsung takon Kepala bagian Kesenian , kaya kang di pesenake Pak Samsul Afandi sadurunge budhal.

Ora kaya ing kanwil Surabaya, ing kene gambang bae yen arep ketemu kepala Bagian. Ora antri akeh. Kanthi sumringah lan sumanak Pak Drs. Moh Aini nampa tekaku , bareng deweke mangerti yen aku anak buahe pak samsul. Maneka warna katerangan sing tanpa , kang surasane aku mesti krasan ing Tanjung Isuy , merga daerah pariwisata. Apa maneh aku guru Bahasa Indonesia , pas banget panggonan mau. Aku rada rada kaget bareng ngerti yen jarak Tanjung Isuy , samarinda 250km , lan kudu di tempuh 27 jam liwat banyu kali Mahakam. Nanging maneka warna katrangan bisa mantebake atiku. Jare ing kana aku bakal weruh lan bisa bermasyarakat karo wong-wong dayak , kang ing njaba mung krungu crita –crita bae.

Alhamdulilah , pangeran tansah paring kelancaran. Kebeneran , KS SMP Tanjung Isuy ana ing samarinda , merga daleme ing Samarinda. Nalika lapor marang kabag Dikmenum Bp. Drs. Awang Adiani , langsung utusan supaya nimbali KS SMP Tanjung Isuy supaya mapak tekaku. Ah, aku di mesakake , marga aku guru kang paling enom kang teka saka Jawa. Pancen nalika teka umurku during genep 21 tahun.

Akhire aku nginep limang dina ing daleme Kepala Sekolah Tanjung Isuy BP.Rufinus Baso Tolanda suku Toraja. Marga kapal kang nuju Tanjung Isuy mung ana saben seminggu kaping telu.

YATIM PIATU

"Gak usah kuwatir tentang saya Pak, " tatapanya kosong. Tak ada senyum sedikitpun. "Lho kenapa?" tanyaku heran. "Saya tidak akan sekolah lagi. Saya disuruh keluar. Tidak akan dibiayai," wajahnya tetap datar. Pandangannya pun tak ada harapan. "Katanya saya nakal Pak." "Boleh tahu bagaimana nakalmu? tanyaku menyelidik "Telinga ditindik. Ditindik tidak mengganggu orang lain kan? Kenapa nggak boleh?" Alasannya masuk akal juga. Baginya, nakal identik mengganggu orang lain. Sedangkan dia tidak pernah melakukan kegiatan yang mengganggu orang lain. "Penampilanmu seperti itu boleh, tapi lihat tempatnya, kamu masih pelajar. Jangan ikut -ikutan anak yang tidak sekolah." "Teman saya yang sekolah di SMK juga pakai lo Pak," nadanya makin meninggi. Dia mempertahankan pendapatnya. "Apakah dipakai juga di sekolah?" tanyaku berusaha meredam emosi "Kalu juga sering membolos kan?" tanyaku lagi + Saya sering bolos Pak. Dariapada guru marah pada saya.'Wajahnya kelihatan murung. Pandanganya menunduk. Aku pun ikut menunduk. Tak sengaja memperhatikan sepatu yang dipakai. Warnanya kusam. Ujung sepatunya berlobang. Jempol kakinya kelihatan sedikit. "Apakah benar kamu nakal? Boleh tahu kenakalanmu?" "Saya sering membolos Pak. Saya tidak kerasan di sekolah. Hampir semua guru marah pada saya." "Budemu tidak tahu kalau kamu membolos?" "Tahu Pak. saya juga cerita kalau saya membolos. Tapi saya langsung pergi ngarit. Saya di rumah juga mau kerja lo Pak. Pulang sekolah ngarit, ada kambinng dua ekor. Bahkan kalau malam juga bantu Mbokde jualan kopi di pinggir jalan," Kuperhatikan penampilannya. Bajunya tak berserika. Celana yang dipakai pun hanya sebatas lutut. Padahal aturan di sekolah ini harus bercelana panjang. Ketika ditanya, telanjur salah menjahitkan. Akan beli yang baru tidak ada uang. Guru-gurunya mengeluh. Kalau di kelas tidak pernah memperhatikan penjelasan gurunya. Dia sibuk sendirian. Ternyata sudah yatim piatu. Dia ditinggal ayahnya sejak masih dalam kandungan. Ibunya meningggal ketika dia kelas 2 SD. Akhirnya hidup bersama budenya yang hanya penjual kopi di pinggir jalan.

ANAK HARAM

"Saya katanya anak haram, Ibu saya tidak ingin saya lahir'" katanya dengan nada emosi. Bibirnya dikatupkan rapat-rapat. Ada nada kemarahan tersimpan di wajahnya. "Untuk apa saya bersekolah?" Untuk apa saya jadi anak baik?" Gadis itu berperawakan kecil. Namun lincah. Ada keanehan yang membuat saya heran. Sering bertengkar dengan teman laki-laki di kelas. Dia berani kepada siapa pun. Tak peduli. "Mengapa kamu bilang begitu? Apakah bapak ibumu tidak sayang?" tanyaku penuh keheranan. Dari penampilanya tidak ada yang aneh. Bukan dari keluarga miskin. "Katanya ibuk saya yang sekarang, Ibuk kandung saya meninggal ketika melahirkan saya," "Nah kamu nggak kasihan pada ibu kandungmu? Meninggal karena berjuang untuk melahirkanmu? tanyaku memotong pembicaraannya. "Bukan gitu Pak, Kata tetangga saya, ibuk saya dulu ingin menggugurkan kandungannya ketika saya belum lahir. Karena yang menghamili ibuk saya tidak mau bertanggung jawab." wajahnya kelihatan memendam kemarahan. pandanganya kosong. "Yang merawatmu sekarang siapa?" "itu bude saya," "Apa dia tidak sayang pada kamu?" "Ya sayang. Tapi ...." dia diam. Tidak melanjutkan kalimatnya. Matanya mulai berkaca-kaca. Kualihkan perhatian "Ayahmu? Tidak sayang"? Dia hanya menggeleng. air mulai keluar dari sudt matanya. "Dia ayah tiriku. Aku tidak sayang pada dia," Ayahnya adalah suami kedua bude yang merawatnya. Suami budenya yang pertama telah meninggal. Ibuknya menikah lagi dengan ayahnya yang sekarang. "Ibuk gak ngertii kalau saya nggak suka sama ayah." "Kamu nggak pernah ngobrol dengan ayahmu?" "Jarang. Nonton tv pun saya nggak ngomong," saya diam. Rumitnya kehidupan anak ini. Bertolak belakang denganpenampilannya. Seminggu yang lalau, ibunya datang ke sekolah. Wali kelasnya memberitahukan bahwa anaknya 4 hari tidk masuk tanpa keterangan. Ibunya sangat terkejut. Setiap hari berangkat dari rumah. Ternyata, dia pergi ke Blitar, 20 km dari sekolah. Di dalam tasnya ada pakaian ganti yang disiapkan untuk dolan. Ketika sudah masuk, dia bercerita kalau dolan dengan teman laki laki. Ceweknya dua orang, cowoknya 3 orang. Dua hari dia sakit di rumah. Yang sehari sengaja dikurung ibuknya di kamar tanpa HP, yang sehari dia sakit badannya panas karena dipukuli ibuknya. "Kalau kamu pengen ketemu pacarmu, bagaimana caranya?" godaku "Janjian Pak, lewat no HP teman saya," katanya mantap. Tanpa rasa malu. Aku tersebyum sambil menghela nafas. Aank kelas 8 SMP sudah berani terus terang tentang pacarnya. "kalau kamu janjian bertemu di mana? tanyaku lagi. Aku makin penasaran. "Ya di warnet Pak," "Beranio, gak takut dimarahi ibumu?" "saya sudah baisa Pak, kalau malam kelar sam teman, pulang jam 9 malam," "Ibumu tahu?" "ya tahu Pak. Kadang dimarahi juga. Tapi saya diam saja. Saya kan nggak berbuat aneh-aneh. Cuma dolan. Memanfaatkan "free wifi". Aku makin terdiam. Unuknya permasalahn hidupnya. Tak bisa membayangkan jika mempunyai anak perempuan yang punya perilaku seperti ini. Namun juga tidak bia menemukan jalan keluar seandainya menjadi dia. Ikut budenya, tak pernah kenal wajah ayah ibunya, tinggal bersama bapak tiri yang tidak disukainya.

TAK INGIN SEKOLAH

"Saya sudah pasrah Pak. Kalau dinasehati tidak mempan. Sama saya beranio. Aanaknya memang keras," cerita ibu Akmal ketika dipanggil ke sekolah. Akmal, anak pertama yang duduk di kelas 7 SMP. Anaknya terkenal nakal. Kata bapak ibu guru, kalau diberi pelajaran tidak pernah memeprhatikan. Ramai. Bahkan mengerjakan tugas pun tidak mau. Tetapi rajin masuk sekolah. "Dulu tidak naik kelas ketika saya sekolahkan di MTs. Mogok setahun tidak mau bersekolah. Katanya malas terlalu banyak hafalan belajar agama," lanjut ibunya sambil menitikkan air mata. "Saya bujuk agar mau bersekolah lagi, dan Alhamdulilah mau masuk ke SMP ini." "Yang ditakuti di rumah siapa?" tanyaku makin penasaran. Kemaren saya datangi ke kelasnya. Saya cari siswa yang bernama Akmal kelas 7. Telinganya ditindik dengan bulatan warna hitam. Bibirnya ada tindik kecil. "Ya itu lo Pak, di sekolah penampilannya seperti anak jalanan, dinasehati tetap saja," kata ibu guru yang saat itu berada di dalam kelas. Kudekati dia. Kutanya, "Apakah tindiknya boleh dilepas?" "Biar gaul lo Pak'" jawabnya percya diri. "Boeh dipakai tetapi jangan di sekolah," bujukku Tak kusangka diapun melepaskan dua tindik di leinganya dan satu di bibir bawahnya. "Nah begitu tetep ganteng. Silakan dipakai kalau di luar sekolah," "Di rumah dimarahi ibuk lo Pak," "Makanya gak usah dipakai. Ibuk melarang karena ibuk tahu itu tidak pantas untuk kamu," kataku sambil tersenyum. Berharap dia dengan senang hati melepas tindik yang menempel di telinganya. "Nanti ke kantor ya!" "Untuk apa lo Pak, di sini saja," "Jangan, kalau di sini di dengar banyak temanmu, nggak nyaman kan?" "Di sini saja Pak. Saya nggak apa ap ko. Nggak malu," "Okey saya tunggu di kantor," bujukku sambil meninggalkan kelas. Kemaren dia mengumpat=umpat . Kalimatnya tidak enak di dengar ketika salah seorang bapak guru memnggilnya ke kantor. {anggilan yang kedua tidak mau datang. Guru yang berada di depannya merasa tersinggung. Ada gurunya, seberani itu mengumpat. sehingga ketika rapat kenaikan kelas ibu guru tersebut menolak keras agar dia tidak dinaikkan. Kutunggu sampai bel pulang, Akmal tidak datang juga ke kantir. Akhirnya dibuatkan surat panggilan orang tua. Dan hari ini ibunya yang datang sambil menggendong anak kecil yang belum berusia 1 tahun. "Ketika saya tanya, kalau tidak naik lagi bagaimana? dia menjawab ggak apa- apa, katanya gak usah sekolah. Pengen bekerja," lanjut ibu Akma. Matanya makin berderai menangis. A anak dalam gendongaannya mulai rewel Dia pun berdiri sambil mengayun anak dalam gendongannya. " "Kalau sore sepulang sekolah dia bekerja Pak, di tetangga. Membuat sendok. Kalau malam kadang -kadang kelar pamit mau kerja. Saya juga takut, saya cari dimana dia pamit kerja. Ternyata bersama teman temannya yang usia di atasnya yang gak sekolah. Ikut menjaga pompa ban di dekat perempatan. Saya lega ternyata anak saya benar benar bekerja. Tapi saya juga nangis, karena tidak bersemangat untuk sekolah." Bapaknya pergi ke Malaysia. Dulunya ketika bapaknya masih di rumah, Akmal penurut, rajin mengaji. "Ketika dapat uang p[un ditunjukkannya ke saya. Dan saya sarankan untuk ditabung, Sekarang gak tau kenpa anak saya jadi seperti tiu. Mungkin salah pergaulan. Omonganya kasar. Penampilannya seperti anak jalanan,"