Minggu, 26 Juni 2016

IKUT PANEN PADI



IKUT PANEN PADI (HARVEST SEASON AT DAYAK BENUAQ FARM)

Musim panen tiba.Berarti musimnya makan beras kampong yang wangi itu.Beras kampong yang menjadi primadona masyarakat.Bagaimana tidak, rasanya enak, dan metika baru masak pun tercium baru harum yang khas.Mungkin kalau di Jawa melebihi beras raja lele yang terkenal.
Sabtu telah janjian sama anak-anak. Siapa yang ngetam di ladang. Ternyata mereka sangat senang ketika mengetahui bahwa saya akan ikut. Maklum sangat jarang ada pegawai yang mau turun ke ladang.Pegawai rata-rata “miyayeni”.Sedangkan saya ingin mencari hiburan.

Sepatu, celana panjang, baju lengan panjang, srahung (topi untuk pergi ke sawah, Mandau (pisau panjang khas Kalimantan) air minum.Wah ke ladang bersepatu?Itulah perlengkapan yang harus dikenakan.Tidak ada petani yang ke ladang memaki rok atau celana pendek.
“Jauh Pak ladangnya?” tanyaku dalam perjalanan berangkat.
“Tidak jauh, hanya satu jam,” jawabnya singkat.
Satu jam? Satu jam perjalanan orang Dayak. Mereka tidak ada yang berjalan lambat.Maklum terbiasa berjalan jauh di hutan. Bahkan sering teman-teman pegawai bergurau “Ke ladang apa ke kantor?” Sindiran kepada teman yang berjalan cepat seperti jalannya orang pergi ke ladang.Tidak ada satuan kilo meter.Karena di hutan hanya ada jalan setapak.
Beberapa kali mereka berhenti berjalan.Menunggu saya yang tertinggal di belakang.Pemandangannya sangat bagus.Tampak kayu-kayu hutan bekas dibakar dibiarkan berserakan.Hanya kayu yang dianggap bagus untuk papanlah yang diambil dibawa pulang.
Melewati bukit-bukit yang penuh tumbuhan padi.Suara biantang beraneka ragam terdengar.Bahkan ada suara bekantan (kera berhidung mancung) yang sangat nyaring.
Kami sampai di ladang.Langsung menuju huma.Rumah kecil berbentuk panggung di tengah hutan, diantara rimbunnya padi yang menguning.
“Naik Pak, minum teh dulu,”
Datang dari kampung lumayan capek. Tapi terhibur oleh ar oma hutan yang khas.The hangat sudah kami minum.Di dalam gubug yang luasnya sekitar 4 x 6 m itu menjadi ruang serba guna.Ada bantal untuk tidur, ada perabotan amsak cukup untuk 5 orang.Tungku pun berada di atas, jadi satu ruang. Tinggi ruangan sekitar 1, 5 meter.
Di bawah, terdapat babi, anjing yang dibiarkan berkeliaran.Sisa makanan atau sampah dapur langsung terbuang di bawah dan dinikmati babi.
Mulailah turun “ngetam” memanen.Saya diberikan keranjang di punggung dan pisau potong padi. Ternyata cara panen pun berbeda dengan di jawa. Yang diambil hanya bulir padinya.Tak perlu mengambil bersama tangkainya.Dipotong dengan pisau, langsung dimasukkan ke keranjang di belakang.
Ada hal yang luar biasa di sini.Padinya tinggi-tinggi.Saya yang bertinggi badan 170 cm harus meraih buliran padi di atas kepala saya.Berarti sangat subur.Wajar kalau padinya enak.Apalagi padi yang ditanam berumur 6 bulan.
Untuk berjalan harus hati- hati.Tanah yang diinjak kelihatanya hanya berair se mata kaki.Tetapi lama kelamaan bisa mencapai atas lutut.Tanah penuh sambah.Tanah gambut.Sampah yang bertumpuk bertahun tahun dari dedaunan hutan.Keadaan ini membuat waktu lebih lama untuk memanen padi.

MENGAMBIL PEREKONOMIAN

MENGAMBIL PEREKONOMIAN

 Mengapa mengambil perekonomian? Sebagaian besar siswa sekolah karena minta mereka, bukan kehendak prang tua. Sehingga hal uang biasa ijin seminggu cari perekonmian untuk bayar uang sekolah.
 Waktu itu hanya 400 rupiah, tetapi harga makanan di warung 1000 rp sepiring Di jawa masih ada harga Rp25 di sini tidak ada 50 an tapi sudah pecahan 100.

Hal yang biasa ortu ke sekolah minta jin anaknya ngetam 10 hari. Bantu ortu. Udangan selamatan.Jika Bugis pasti lama, baca berjanji.Meninggalkan kelas.Gak dating gak enak, karena semua guru diundang. Dating meninggalkan anak-anak Jika undangan makan2m ada khusu muslim Pertama diundang kapolsek. Ketika akan makan saya diingatkan, itu bayi. Bayi… hehe ternyata babi.

Akhirnya saya diberikan ikan sarden Ada ruang khusus untuk muslim dengan menu khusus yang dimasak oleh orang2 muslim Jika menjelang natal jadi modin pitik Esoknya banyak undangan Jika hari yara merekapun ikut jalan dari rumah ke rumah mengucapkan selmat idu; fitri

Pernah ada kesalahfahaman dari seorang guru agama katolik dengan pemuda moslem. Esok pagi guru agama tersbut sudah tidak berada di tempat. Diminta meninggalkan desa, agar tidak timbul gesekan antar pemeluk agama

MENGACUNGKAN TANGAN KIRI

MENGACUNGKAN TANGAN KIRI

 Ketika saya membagikan hasil ulangan, ada kejadian yang sangata sing bagi saya. Ada beberapa murid yang menerima kertas dengan tangan kiri.Saya sangat terkejut.Semula saya piker ini penghinaan.Tapi saya sadar.Ini bukan bumi Jawa, bukan adat Jawa.

Untuk mengingatkan mereka, saya beri penjelasan tentang fungsi tangan manusia. “kalau membersihkan kotoran sehabis buang air besar, kita menggunakan tangan kiri bukan? Nah berarti secara tidak langsung ada pembagian tugas pada tangan kita.Bagaimana kalau untuk kegiatan menerima sesuai kita gunakan tangan kanan?”

Syukurlah penjelasan itu mereka pahami.Jika ada anak yang menerima sesuatu dengan tangan kiri, selalu saya ingatkan.Jika waktu memebrikan kertas, mereka menerima tangan kiri, saya tahan kertas itu hingga mereka mengubah tangan kanannya untuk menerima. Apakah ini menjajah kebudayaan?

Saya tak peduli.Tujuan saya baik.Menyampaikan hal yang menurut saya baik. Ada lagi kebiasaan mereka yang perlu dirubah.Cara duduk di kursi.Terbiasa duduk di kursi panjang dengan jongkok di atas kursi.Anehnya lagi, ketika ada guru lewat pun mereka tetap jongkok di atas kursi.Tidak mau menurunkan kakinya. Mungkin karena belum tahu bahwa cara duduk seperti itu kurang sopan.

Ketika ada orang bertanya tentang lokasi, dengan tenagnya anak-anak memberikan penjelasan dengan bantuan kaki.Menunjukkan rumah seseorang, digambarkan dengan menggaris tanah membuat semacam denanh dengan kaki.Wah.Mengapa tidak menggunakan tangan?Mungkin lebih praktis, tidak perlu jongkok.

Ini adalah tugas saya .Mengajar dan mendidik.

PAK KAMI TIDAK ADA GURU



PAK KAMI TIDAK ADA GURU

“Pak, kami tidak ada guru!”
Terdengar suara anak- anak di luar.Padahal saya berbaring di ruang penjaga di ujung utara lokasi sekolah. Berjarak 20 meter dari kelas. Anak-anak masih mencari.Mungkin karena sandal saya berada di luar, sehingga mereka mengetuk pintu.

Maunya beristirahat agar tidak terganggu anak- anak yang ramai bermain.Tetapi inilah pengabdian.Mereka sangat memerlukan guru.Tidak ada piket siang.Jumlah tata usaha hanya satu, itupun masih honorer.Kelas satu yang berjumlah dua kelas sengaja masuk siang karena keterbatasan guru.

Saya pun bangun, cuci muka, ganti pakaian dan mengajar.Pelajaran kesenian dan matematika.Dua duanya saya isi, saya beri tugas.Bergantian masuk kelas. Tiga jam pelajaran saya rasa cukup. Cukup lelah karena pagi mengajar, cukup memberikan semangat pada  anak-anak karena mendapatkan pelajaran.

Sengaja saat itu saya berbaring di rumah penjaga yang hanya ditempat waktu malam hari.Karena ketika istirahat di ruang BP, sering mendapat ketukan pintu anak-anak yang tidak ada gurunya.Waktu itu saya baru saja berbaring setelah makan siang. Saya lihat jam dinding. Pukul 14 .30.Pukul 13 bel pulang untuk siswa yang masuk pagi.Makan siang, sholat dhuhur, istirahat. Belum ada lima menit merebahkan tubuh.

Maklum, anak-anak mengetahui kalau saya tinggal di ruang BP. Tentu saja letaknya berdekatan dengan kelas.Ruang kelas di sebelah timur, turun turun tiga meter ruang guru.Ruang BP berada disebelah barat ruang guru.Di sebelahnya lagi ruang kepala sekolah dan paling barat ruang tata usaha.Antara ruang laboratorium dan ruang tata usaha terdapat ruang tunggu.Di ruang laboratorium inilah kepala sekolah tinggal.
“Inikah pengabdian?” saya bertanya pada diri sendiri.Namun apabila sering begini, saya pun ingin istirahat.Tubuh ini terbatas kemampuannya.Tetapi bagaimana dengan anak-anak?Mereka bersemangat sekolah.Ingin mendapatkan pelajaran.


Pertentangan batin itu terjawab. Ketika Kepala Dinas mengetahui bahwa kami tinggal di sekolah, kami disarankan untuk tidak memanfaatkan gedung sekolah sebagai tempat tidur. Dipinjamkan perumahan sekolah dasar.Kebetulan ada tiga yang kosong.Dua rumah untuk guru, dan satu rumah untuk penjaga.Saya memilih rumah untuk penjaga.Bangunnaya sederhana, tapi lebih luas.

Hidup baru bermula.Keadaan berubah.Sore tak lagi dicari anak-anak untuk mengisi kelas yang kosong.
“Pak, kami tidak ada gurunya.Apakah boleh pulang?” dua anak laki-laki lari tergopoh-gopoh ke rumah saya yang baru.“Saya sudah mengeyuk pintu rumah Bapak Kepala tidak ada. Pak Oka juga tidak ada,”
Kasihan. Jarak rumah saya ke sekolah hamper satu kilo meter. Dengan kepolosannya mereka minta ijin untuk pulang.Akhirnya saya sarankan mereka pulang dengan menutup pintu kelas dan jendela.

Sabtu, 18 Juni 2016

KENALAN MAHLUK HALUS

Hari itu hari keua saya mengajar di bum dayak benoaq. Saya ngjar sore hari. Ada dua kelas yang saya ajar. Kelas 7a dan 7b. Setelah saya berkenalan sebagai guru baru dari Jawa, pelajaran pun aya mulai. Memberi cntoh, kemudian memberi tugas pada siswa untuk mengjerjakan.

Salah satu siswa yang bernama Idris minta ijin keluar ke kamar kecil. Namun sudah ada 10 menit belum kembali ke kelas. Kucoba menengok ke luar. Ternyata berbaring di kursi panjang yang berada di teras kelas.

"Tadi katanya pusing Pak," kata teman sebangkunya. Sengaja saya biarkan. Semoga pusingnya bisa hilang untuk tidur.

Bel pulang berbunyi. Anak-anak pulang. Namun Idris tetap telungkup di kursi panjang. Dibangunkan teman-temannya tidak mau. Kucoba mendekati. Aneh. Justru mendengkur. Air lirnya membasahi kursi tempatnya berbaring. Ketika dibalikkan tubuhnya, matanya terbuka, tapi tak tampak bulatan hitam di matanya. hanya putihtanpa kedip. Karena sudah agak gelap, saya sarankan dibawa ke ruang BP tempat saya menginap.

Ruang ukuran 3 x 4 itu terasa makin ssak karena banyak yan mengerumuni idris. rang tuanya dipanggil. "Orang tua" pun di datangkan. Dia dibaringkan di atas tikar yang saya beli kemaren.

"Pak Guru, dipanggi!" kata salah seorang siswa yang masih menunggui Idris.
Saya pun datang. "Sudah mau bicara?" tanyaku setelah melihat dia masih telungkup. Karena sejak tadi tak mau bicara apa- apa.
Tiba-tiba badannya berbalik. Dua angannya telentang. Minta agak dilonggarkan sekelilingnya.Kedua tangannya bergerak ke atas, kemudian ibu jari dan telunjuknya disatukan membentuk lingkaran.

"Kaca mata?" tanya orang tua bersorban puth itu sambil mengusapi wajah idris dengan air putih.
Idris mengangguk.
"Minta kaca mata?" kuberanian diri untuk ikut bertanya. Kulepas kaca mata minus saya. Kuberikan pada orang tua itu. Idris menggeleng.
"Pak guru yang berkacamata?" tanya Orang tua itu. Idris mengangguk.
Semua yang ada di ruangan memandang saya. Ruangan BP yang sempit itu makin kurasakan sempit. Tanpa listrik. Hanya sebuah lampu minyak. Entah bagaimana wajahku saat itu. Seandainya ruangan terang pasti akan tampak ketakutanku.
Saya baru dua hari. Sudah ada kejadian seperti ini.

Idris berbalik telungkup. Tangannya menggerakgerakkan seperti mau menulis. Orang ftua itu pun tanggap. Memintaku kertas dan bolpoin. Dia pun menulis sambil telungkup. Matanya kini terpejam.

"Kenalkan, saya dari rapak Suo," tulisan itu tampak jelas dengan  huruf besar semua.

Kamis, 16 Juni 2016

INDONESIA KECIL

   Ketika kami datang, hanya ada 3 guru tetap termasuk kepala sekolah.  P Rifinus Baso Tolanda dari Toraja, Pak Timotius Oka dari Toraja, P. Yohanes dari Dayak Tunjung, saya dari Tulungagung Jawa Timur. 
Jumlah ruang ada 6. Masing-masing dua rombel. Anak pertama baru kelas 3 SMP, sehingga belum meluluskan. Sebelum kami datang, ada GTT dari guru SD dan pegawai kecamatan yang berijazah SMA. Guru agama pun ada 3. Islam, Protestan, Katolik.
SeTiga tahun kemudian, guru-guru mulai berdatangan. Keadaan kami seperti Indonesia kecil. Siswa 6 kelas itu memiliki guru dari berbagai suku. Jawa, Bugis Mkasar, Bugis Toraja, Batak, Kutai, Banjar, Dayak Benoa, Dayak Tunjung, Dayak Krayan, Dayak Kenyah.
Murid pun terdiri dari berbagai suku. Dayak B enoa, Dayak Tunjung, Banjar, Kutai, Bugis. Bahasa sehari hari yang terdengar di masyarakat, Bahasa Indonesia, Bahasa Kutai, Bahasa banjar, Bahasa Dayak Benoa, Bahasa Bugis.


BBercanda dengan logat suku masing masing menjadi hal yang biasa. Dialek jawa yang kental menjadi lucu jika diucapkan olah orang non Jawa. Dialek bugis sering menjadi canda tawa. Dialek Banjar pun menjadikan kami tertawa ditinjau dari pengucapan bahasa Indonesia


Bahasa Banjar tidak kenal vokal e pepet. dan konsonan l mati
didikumpulkan . dikumpulakan
vespa pe ex ... vispa pi ik

suku bugis tidak kenal konsonan p dan mati di belakang
kandep ... akndek
makan, jalan ... makang jalang

bahasa Jawa selalu punya konsonan tebal terutama konsonan bdgj  orang Jawa DuDuk . Di GergaJi saja   dengan pengucapan tebal, bahkan air liur sampai nyemprot

Sebagai guru bhasa Indonesia, saya berusaha menghilangkan ciri khas Jawa saya, dan itu tidak mudah. Ada teman dari Bugis yang selalu mengingatkan pengucapan saya. Alhamdulilah mampu.

"Pak maaf saya minta jin pulang karana sakit PARUT', kata Arli salah seorang siswa suku Banjar. Aku mengangguk sambil tersenyum Arli memahami senyum saya. dia mengulang kalimatnya . "Sakit perut Pak,'
""Jalan ke kampung kami sakit Pak," kata salah seorang siswa yang rumahnya 16 km dari sekolahj. Dia mengatakan sulit dengan kata sakit. itulah bahasa Kutai.

SAYUR ANEH LIDAH JAWA

S
Sayur memang sulit. Namun bukan berarti suku dayak tidak kenal sayur. Sayur yang dimasak tentu saja tidak jauh berbeda dengan tetumbuhan yang ada di sekitarnya.

SSayur cempedak. Cempedak, buah nangka khas Kalimantan. jika masak, baunya sangat harum. Buah ini tidak pernah dijual belikan. Cukup minta tetangga atau mencari di hutan.

Sayur bunga tebu. Mengapa saya katakan bunga tebu? Bentuk batangnya mirip tebu, tetapi bunganya agak tebal berdiameter sekitar 3 cm. Biasanya disayur bening atau dioseng.

Daun paku. Tumbuhan paku banyak tumbuh liar di hutan. Pucuk paku yang berwarba merah sangat segar jika dimasak dengan cara direbus diberi irisan bawang merah abwang putih dan bawang merah. Warnanya merah kecoklatan menggugah selera.

Sayur labu kuning (waluh). Di Jawa, waluh hanya untuk kue dan direbus. Tetapi di sini digunakan untuk sayur santan. Bahkan dicampur dengan singkong. Aneh bukan? Singkong disayur?

SSambal nanas. Bukan acar nanas. tapi nanas disambal. Cabenya cukup sedikit, itu pun cabe merah. Orang-orang di Kalimantan tidak suka makan pedas. Mereka heran ketika melihat orang Jawa makan tahu goreng sambil lalapan cabe.

SSingkong goreng dimakan dengan sambal. Unik, tetapi enak juga. Hampir setiap warung di sekolah menjual singkong goreng disertai sambal campur caos dan terasi.







a